Kamis, 26 November 2015

Keluarga sebagai pondasi

Deni baru tiba dari rutinitasnya, Deni bekerja di salah satu perusahaan kecil di desanya. Dia tinggal bersama keluarganya, dengan kedua adik laki - lakinya. Ayahnya hanya seorang sopir dan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Sama halnya seperti keluarga di desa pada umumnya, hidup mereka serba terbatas. Kebutuhan pokok tidak sepenuhnya tercukupi. Keadaan ekonomi di desa begitu sulit, perputaran uang pun tidak seperti di kota besar.

Orang - orang desa pada umumnya belum mengerti tentang pentingnya pendidikan. Mereka hanya menyekolahkan anak - anak mereka sampai SMP. Namun beruntung bagi Deni, yang bisa melanjutkan sekolah sampai SMK.

"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" Eh kak Deni udah pulang. Sahut adiknya menuju pintu rumah.
"Ibu kemena Ri? Nggak seperti biasanya jam segini nggak ada di rumah."
"Ibu tadi keluar sebentar, katanya mau ke rumahnya Bu Lela."
"Ada acara apa di sana?" Tanya Deni yang mulai penasaran.
"Ada syukuran ka, kan kemarin anaknya baru lahiran. Katanya sih syukuran tujuh hari lahiran sekaligus ngasih nama anaknya."
"Oh, yaudah lah. Tapi, nanti kamu yang jemput Ibu ya! Takutnya nanti Ibu kehujanan terus jalan kan licin."
"Iya kak, tenang aja. Oh iya kak, tadi kata Ibu, kakak kalau mau makan, masak sendiri aja dulu. Soalnya tadi ibu tidak sempat masak, tambah lagi tadi Gilang rewel terus."
"Ok lah," jawab Deni sambil masuk ke dalam rumah.

"Kak, aku pergi jemput Ibu dulu ya! Soalnya udah hujan nih!" Teriak Eri sambil berlari ke depan rumah.
"Iya Ri, hati - hati jalannya licin!" Eri pun keluar menuju rumah Ibu Lela untuk menjemput Ibunya.
"Makan apa ya?" Gumam Deni dalam hati sambil membuka lemari pendingin penyimapan bahan makanan.
"Telur lagi, telur lagi!" Gerutu Deni sambil menaruh wajan dan menyalakan kompor. Sore itu hujan begitu lebat, di sertai dengan gemuruh dan kilatan petir.
"Asslamualaikum!" Terdengar salam sambil suara pintu terbuka.
"Den, sudah lama ya kamu datang?"
"Lumayan Bu." Jawab Deni sambil menunda makanan yang dia makan. Deni menghampiri Ibunya sambil mencium tanganya.
"Makan sama apa Den? Tadi Ibu belum sempat masak, soalnya adik kamu tuh rewel terus."
"Ini Bu, sama goreng telur. Ah tidak apa - apa Bu, ini juga udah ada makanan kok."
'Oh iya Bu, Gilang mana?"
"Tuh di luar sama Eri, sahut Ibu."
Gilang si bungsu yang baru berumur empat setengah tahun.
"Kak Deni! Ayo hujan - hujanan!" Teriak Gilang sambil lompat - lompat di depan pintu.
"Jangan hujan - hujanan, nanti kamu sakit! Ayo masuk sini!" Ajak Deni dengan penuh kasih sayang.

Gilangpun menurut perkataan Deni dan masuk ke rumah. Si bungsu memang nurut kalau udah Deni yang bilang. Karena Deni tidak pernah membentak ataupun memarahinya. Meskipun dia nakal, Deni hanya menegurnya dengan lembut. Makanya si bungsu nempel terus kalau Deni di rumah.

Hujan di luar semakin deras, petir dan gemuruh silih berganti. Tanpa terasa terdengan suara adzan Magrib.
"Tuh udah Adzan, ayo pada ambil Wudhu!" Perintah Ibu pada keitiga anaknya.
"Bu, kita solat berzamaah ya!" Kata Eri.
"Iya Ri, ayo pada wudhu dulu! Den ajakin Gilang wudhu tuh! Sekalian cuciin kakinya!"
"Sini Lang!" Sambil menarik tangan Gilang.

Merekapun solat berzamaah dengam Deni sebagai imam. Berhubung Pak Dodo belum pulang, jadi Deni lah anak laki - laki paling tua di sana. Pak Dodo adalah sopir truk yang bekerja di project. Dia pulang paling cepat satu minggu sekali.
Setelah mereka solat berzamaah tiba tiba listrik rumah mereka mati akibat hujan deras yang tak kunjung berhenti.
"Aaaaaaaaa!" Teriak Gilang pada saat lampunya mati.
"Den, ambilkan senternya!"
"Iya Bu." Sambil meraba - raba tembok di sekitar.
"Senternya ada di kamar Ibu, di atas lemari kecil!" Teriak ibu
Dengan meraba - raba, Deni pun mengambil senternya.
"Ada lilinnya nggak Bu?"
"Ada di dapur, di atas rak." Sahut Ibunya.

Beberapa menit kemudian, lilin pun mulai nyala.
"Simpan lilinnya di situ aja Den!" Perintah Ibu sambil menggendong si bungsu dan di tuntun Eri.
Keadaan rumah begitu sepi.
"Bu, kapan Bapak pulang?" Tanya Eri memecah keheningan.
"Katanya sih minggu depan baru bisa pulang, soalnya truk yang Bapak bawa sedang di perbaiki, mungkin mogok"
"Berarti kalau pulangnya agak lama gitu, Bapak bawa uangnya banyak dong Bu?" Tanya Eri sambil tersemun.
"Ya Insaalloh, kalau ada rezeki lebih pasti banyak Ri."
"Ah kamu Ri, belajar yang bener! Duit terus yang kamu minta, kasihan Bapak!"

Kata Deni menasehati.
"Iya kak, tapi kan pengen juga beli mainan sama seperti yang lain." Kata Eri sambil tertunduk tidak berani menatap kakaknya.
"Utamakan kebutuhan dulu daripada keinginan, mintalah pada Bapak sesuai apa yang kamu butuhkan." Kata Deni menasehati sambil mengusap - usap rambut Eri.
"Iya kak, Eri nggak akan minta macem - macem." Sahut Eri sambil tersenyum.

Suasana rumah kembali sepi di tambah gemericik hujan di luar membuat keheningan di malam itu terasa lebih tenang. Si bungsu pun tertidur lelap di pangkuan ibunya.
Deni beranjak dari ruang tamu menuju teras depan rumah.
"Mau kemena Den?"
"Mau merokok Bu, di depan teras sebentar." Jawab Deni sambil berjalan ke depan teras.
"Crek Crek." Suara korek di nyalakan.
Deni duduk di kursi kayu depan teras, dengan memandang ke sekeliling depan rumah.

Deni melamun di sela - sela gelapnya malam dan derasnya hujan. Pikirannya melayang.
"Kemana hidup ini akakn ku bawa?"
"Masa seperti ini terus?" Gerutu deni dalam hatinya.
"Mau keluar kota tapi nggak ada yang kenal, mau tetap di sini tapi penghasilan minim."
"Tapi, kalau aku pergi ke luar kota, gimana Ibuku nanti? Dia pasti kerepotan mengurus kedua adiku."
"Yah, itu nanti saja aku bicarakan sama Bapak dan Ibu."

Deni tipe orang terbuka sama kedua orang tuanya. Deni selalu menceritakan apa yang dia pikirkan. Deni merasa lebih beruntung berada di keluarganya. Meskipun terbilang sederhana, tapi ikatan di antara mereka begitu kuat.
Kasih sayang yang tulus dari keluarga menjadikan mereka lebih tegar menghadapi sulitnya ekonomi di jaman sekarang. Karena ikatan keluarga begitu penting untuk merubah dan mendidik karakter seseorang. Dan keluarga juga yang menjadi dasar dari pendidikan anak - anak. (Bersambung)

0 komentar

Posting Komentar